Kamis, 25 April 2013

Lorong Hati Ima

"Apa?" Kirana merengut.
"Iya, lho! Ada lorong misterius di sana," jawab Rena. "Di dekat rumah Ima."
"Ima pernah ke sana?" tanya Kirana.
"Entahlah," jawab Rena. "Mungkin sangat misterius, sehingga Ima yang baik hati itu takut untuk ke sana. Mau ke rumah Ima?"
"Boleh saja," sahut Kirana.
Di dekat tembok rumah Ima, Rena menunjukkan lorong di dekat pohon jambu dan rerumputan panjang. "Itu, tuh!"
Kirana mengucek matanya. "Ah, itu, sih, hanya lubang biasa! Nanti juga ujung-ujungnya lobang buntu."
Rena marah. "Enggak mungkin! Coba kita ke sana sebentar... temani, dong!"
Kirana menggeleng. Rena kesal.
"Ayolah! kamu, kan, setuju untuk ke sini!" paksa Rena. "Ukh, jujur saja kalau kamu takut."
Kirana yang kali ini kesal dibilang penakut. "Oke! Kita masuk," kata Kirana, akhirnya.
Saat di dalam, lorong itu makin mengecil.
"Iih... hentikan saja, yuk! Makin enggak ada tempat pernapasan, nih!" keluh Kirana.
Rena tidak mendengarnya.
Syut! 
Tiba-tiba saja, mereka berdua tergelincir dan meluncur seperti naik perosotan yang menjulang tinggi.
Bruk!
"AAAAWWWW!!!" mereka berdua menjerit kesakitan. 
Saat melihat sekeliling, yang ada hanya 1 mesin kecil. Dilengkapi dengan 2 tombol dan kursi yang nyaman. Mereka heran. 
"Apa ini?" tanya Rena.
"Entahlah," jawab Kirana. "Coba saja pencet tombolnya."
Rena duduk di kursi yang nyaman itu. "Disini ada tulisan Ima heart dan ada tanda senyum."
Rena mencoba memencet asal tombol. Yaitu tombol bewarna kuning. Tidak terjadi apa-apa pada gambar. Lalu, di sebelah gambar ada tombol tambah dan kurang. Rena memencet tambah. Ia memencet terus tambah sampai 8x. Gambar senyum itu makin melebar.
Lalu Rena memencet tanda silang.
Syut!
"Ah, kita kembali!" kata Kirana, seketika.
"Uh, iya. Ah, itu Ima!" tunjuk Rena. "Hai, Ima!"
"Haaai... sahabat-sahabatku. Aku sayaaang... banget sama kalian! Kalian... ah, bikin aku kehilangan stres! Terima kasih..." kata Ima, yang tiba-tiba tersenyum manis.
"K... kenapa kamu, Ima? Kok, kamu aneh banget," komentar Rena, heran.
"Masa iya, sih? Kalau iya maafin aku, yah... aku mungkin kurang sehat sekali. Aku kembali ke rumah, ya, teman-temanku tersayang!" kata Ima.
"Hah? Apa yang terjadi pada Ima?" tanya Kirana.
"AHHAAA!!! mungkin mesin itu yang membuatnya seperti itu! Kamu memencet tanda senyum dan menambahkan senyumnya, itu berarti Ima yang baik bertambah baik! Kalau kita beri tanda kurang, ia mengurangi baiknya!" jawab Rena.
Kirana punya ide usil. "Aha! Aku coba membuat dia marah!"
Seperti biasa, Rena dan Kirana memasuki lorong itu. Sesampainya, Rena memencet tanda kurang sampai 20x.
Lalu muncul gambar marah. Rena dan Kirana memencet tanda silang dan mereka kembali. Ima terlihat sedang keluar rumah.
"Hai Ima, apa kabar?" sapa Kirana, ramah.
"Kenapaan, sih, sapa-sapa? Sok ramah! emang kamu pikir kamu itu siapa? Hah? Kamu itu menurutku hanya orang ge-er terhadap semua yang kamu lihat!" ujar Ima. Ima menendang kaki Rena dan Kirana. 
"Adduuuuhhh!!!" keluh keduanya. Mereka meringis.
"Haaahahahahahahahahaha!!! RASAIN itu! Sok ramah.... iiih!" tawa Ima, dengan keras.
"Ubah lagi, yuk!" ajak Rena.
Sesampainya di mesin, saat memencet tombol tambah, mesinnya rusak, dan ada tanda-tanda akan meledak.
"Kyaaa!!! Bagaimana ini? Tombol tambahnya rusak! Jadi... Ima akan seperti itu selamanya! Kejam! Uuuh... bagaimana ini!?" jerit Rena.
"Jangan ditendang! Menjauh!!!!" seru Kirana. Mereka menjauh.
DUUUAAAARRRHHHH!!!!
"KYAAAA!!!!!!!!!!"
Celakalah bagi kalian yang telah merusak hati Ima! Ia akan segera gila dan menjadi manusia tidak berperasaan! Membuat ia marah besar, dan membuat hati Ima menjadi terlalu marah dan hampir mencapai batas maksimal adalah salah besar! Celakalah bagi kalian yang telah melukai hati orang dan itu salah kalian!
sebuah suara asing entah darimana membuat Kirana dan Rena takut. Mereka menggigil, takut, berkeringat, merasa bersalah, sekaligus menangis menjadi satu.
"Ma... maafkan kami! Kami akan lakukan apa saja, namun jangan bunuh kami!" kata Rena, sambil menangis.
Siapa yang akan membunuhmu!? Aku adalah hati Ima, dan aku telah rusak! kalian akan tanggung, aku tidak butuh pelayananmu, aku hanya butuh kalian bisa mengerti betapa sakitnya hati orang saat ini!
Rena dan Kirana menangis dan menggigil. Mereka hampir pingsan. Syukurlah...
"Aku mau menggantikan hatiku pada hati Ima!" kata Rena, dengan keras.
Kau serius?
Rena mengangguk.
"Kenapa, Rena? Nanti kamu jadi gila!" jerit Kirana.
"Kirana... akulah yang telah mengajakmu melakukan kesalahan..." tangis Rena jatuh pada mesin itu.
Tiba-tiba, mesin itu dikelilingi bunga-bunga, dan tanda hati. Rena tiba-tiba pingsan.
"RE... RENA!!! Kamu kenapa!? Jawablah!" jerit Kirana.
Ia telah memberi hati baiknya...
"Tapi kenapa!? kenapa... huaaa!!! seharusnya, akulah yang engkau ambil hatiku, wahai hati! Aku tidak terima... aku tidak terima kenyataan iniii!!!!" bentak Kirana.
Aku belum selesai. ia hanya memperbaikinya lewat tangisan. maksud dari kata-kataku tadi, sama dengan mencopy gambar. Kalau dicopy, kan, makin banyak? Jadinya, hatinya dicopy dan copyannya dibandingkan sampai berat dengan hati Ima yang semula sama.
"Ja... jadi..."
Ya, ia masih utuh, kok, hati baiknya! Dasar negatif. Pulanglah!
Kirana dan Rena kembali ke depan rumah Ima. Rena pun sadar. 
"Ukh.... Kirana? Apa yang terjadi?" tanya  Rena.
Kirana menceritakan.
"Oh, begitu? Ya, sudah! Kita janji, ya, tidak akan membuat gila hati orang lain!" kata Rena.
"Iya!" kata Kirana.
"Hai, sedang apa, sih, kalian berdua?" tanya Ima, yang tiba-tiba muncul.
"Eh? enggak ada, Ima... kamu enggak gila, kan?" mereka berdua masih memastikan.
"Gila? Hahahahahaha... habis mimpi buruk, ya? aku enggak gila, teman-teman! Aku normal-normal saja," tawa Ima. "Mau cake? Ibuku membuat choco cake dengan kacang!"
Ini baru Ima yang benar...